“Jadi menurut saya, jika Prabowo tetap memaksakan opsi Golkar dan partai koalisi untuk maju bersama Gibran, maka yang akan dia hadapi adalah rasionalitas dan nalar publik yang antiterhadap politik dinasti, oligarki dan nepostisme, sehingga sebelum dideklarasikan, Prabowo harus menghitung dampak pilihan ini secara cermat dan hati-hati,” katanya.
Dia menambahkan jika nanti Prabowo benar-benar maju dengan Gibran maka akan terjadi migrasi dan eksodus suara ke kubu Anies dan Muhaimin.
Mengapa? karena Gibran itu anak biologis dan ideologis Jokowi, di mana, sebagian besar pendukung Prabowo adalah pemilih setianya. Pemilih-pemilih ini sudah menjadi voters yang setia atau voters kepala baru dari Pilpres 2019 yang sangat berseberangan dengan Jokowi.
“Jika Gibran menjadi cawapres Prabowo maka sudah pasti mereka akan pindah ke Anies-Muhaimin,” katanya.
Selain itu, di lapisan berikutnya dari pendukung Prabowo adalah pemilih Jokowi yang menyukai figur Prabowo dan Jokowi. Nah, mereka ini juga tidak semuanya akan tetap setia mendukung Prabowo ketika rasionalitas mereka terganggu dan terlukai oleh majunya Gibran karena pendukung Jokowi itu tidak hanya pemilih tradisional.
“Banyak juga yang kelompok kelas menengah di kota, kaum terdidik, budayawan, dan kaum rasional yang sangat membenci praktik politik dinasti. Mereka ini sudah pasti terganggu dan bisa melakukan migrasi ke Ganjar maupun ke Anis karena praktik politik dinasti itu bagi banyak orang adalah sesuatu yang tidak etis,” katanya.
Masyarakat sudah trauma dengan praktik ini selama Orde Baru. Mereka tidak ingin mimpi buruk itu terulang kembali.
Argumentasi bahwa ini pemilihan langsung sehingga sangat tergantung pada pilihan masyarakat adalah sebuah pernyataan hanya rasional saja tapi tidak empirik sehingga kontradiktif, katanya.
Komentar