Dalam perspektif manajemen organisasi, perubahan budaya selalu dimulai dari kepemimpinan. Pesan paling kuat bukanlah pidato, melainkan tindakan. Ketika pelanggaran serius dihukum secara terbuka dan konsisten, ketika promosi benar-benar diberikan kepada mereka yang berprestasi, dan ketika gaya hidup aparat diawasi dengan ketat, maka standar baru akan terbentuk dengan sendirinya.
Di titik itu, gagasan sipilisasi justru bisa menjadi pelengkap reformasi, bukan penggantinya. Profesional sipil dapat membantu memperkuat bidang-bidang yang membutuhkan keahlian khusus, sementara polisi dapat lebih fokus pada tugas pokok menjaga keamanan dan melayani masyarakat.
Dengan kata lain, perdebatan tentang sipilisasi seharusnya tidak berhenti pada pertanyaan apakah sipil boleh masuk Polri atau tidak. Pertanyaan yang lebih penting adalah apakah institusi kepolisian telah memiliki fondasi budaya yang cukup kuat untuk menyerap perubahan tersebut.
Sebab, seperti rumah yang sedang direnovasi, menambah tenaga ahli memang penting. Tetapi tanpa memperbaiki fondasi, bangunan itu tetap akan menghadapi risiko yang sama. Reformasi Polri pada akhirnya bukan soal siapa yang mengisi jabatan tertentu, melainkan bagaimana membangun organisasi yang profesional, akuntabel, dan dipercaya publik.
Di situlah pekerjaan terbesar yang masih menanti.
* Penulis: Tundra Meliala, Ketua Umum Asosiasi Media Konvergensi Indonesia (AMKI)
Komentar