“Anak-anak saat ini sangat mudah menerima pengaruh budaya asing melalui perkembangan teknologi informasi. Karena itu, pengenalan budaya sejak dini menjadi penting agar mereka memiliki fondasi karakter dan jati diri bangsa yang kuat,” ujarnya.
Menurutnya, ajang Abang None Cilik bukan sekadar kompetisi, melainkan sarana edukasi untuk menanamkan nilai-nilai budaya Betawi kepada generasi penerus.
“Melalui kegiatan ini kami ingin mengajak masyarakat tidak hanya melestarikan budaya, tetapi juga menanamkannya kepada anak-anak sebagai bekal menghadapi masa depan,” katanya.
Sementara itu, Koordinator Dewan Juri, Ahmad Faisal Ridwan, menjelaskan bahwa penilaian dilakukan berdasarkan empat aspek utama, yakni penampilan dan tata busana, keberanian serta ekspresi panggung, pengetahuan dasar budaya Betawi, dan kejelasan artikulasi.
“Kami mencari peserta yang bukan hanya berani tampil, tetapi juga memahami budaya Betawi dan mampu mengomunikasikannya dengan baik,” ujarnya.
Di antara ratusan peserta yang tampil, sosok Shazana Almahyra Kurniawan atau Nana menjadi salah satu peserta yang menarik perhatian pengunjung maupun dewan juri.
Peserta asal Kelapa Gading, Jakarta Utara tersebut tampil percaya diri saat menjawab pertanyaan juri. Kemampuan komunikasi dan ekspresinya yang baik membuat Nana menjadi salah satu peserta yang mendapat perhatian selama proses seleksi berlangsung.
Komentar