Terkait dengan itu, wali kota bersyukur tradisi Lebaran Topat yang sudah masuk menjadi agenda tetap kalender pariwisata, tahun ini bisa dilaksanakan kembali secara normal tanpa ada pembatasan.
“Masyarakat bisa punya lebih banyak kesempatan untuk mengekspresikan kegembiraan dalam merayakan Lebaran Topat. Semoga ini bisa terus terjaga dengan baik,” katanya.
Di sisi lain, wali kota mengimbau kepada masyarakat agar tetap menjaga keamanan dan keselamatan diri dan orang lain agar Perayaan Lebaran Topat bisa berjalan lancar dan aman tanpa ada kasus-kasus yang tidak diinginkan.
“Masyarakat yang berekreasi terutama di kawasan pantai, harus waspada antisipasi gelombang pantai. Apalagi membawa anak-anak,” kata Mohan Roliskana.
Kepala Dinas Pariwisata Kota Mataram H Nizar Denny Cahyadi sebelumnya mengatakan, Lebaran Topat merupakan lebaran yang dirayakan seminggu setelah Idul Fitri atau lebaran bagi umat Muslim yang telah melaksanakan puasa enam hari di awal bulan Syawal.
Namun, masyarakat di Kota Mataram dan Pulau Lombok secara umum secara serentak merayakan Lebaran Topat dengan berbagai kegiatan religi dengan doa dan zikir di Masjid atau musala, berziarah ke makam-makam keramat kemudian makan-makan sambil bersantai ke sejumlah objek wisata yang ada terutama pantai.
“Kegiatan juga dirangkaikan dengan berbagai atraksi budaya dari pagi sampai sore sekaligus sebagai hiburan bagi warga yang datang merayakan Lebaran Topat di kawasan itu,” katanya.
Karena itu, saat Lebaran Topat kawasan 9 kilometer pesisir pantai di Kota Mataram akan dipadati puluhan ribu warga yang merayakan Lebaran Topat, termasuk pantai di kawasan Batu Layar, Senggigi, Nipah, Sire di Kabupaten Lombok Barat dan Utara, serta Pantai Kute yang ada di Lombok Tengah, demikian Nizar Denny Cahyadi.
Komentar