Beranda
Seputar Publik / Berita

Enam Tahun Diakui UNESCO, KPSTI Ajak Tafakur Arah Masa Depan Pencak Silat Tradisi

Menteri Kebudayaan Fadli Zon Poto bersama dengan Komite Pencak Silat Tradisi Indonesia (KPSTI), saat menggelarTasyakuran dan Tafakur Retrospeksi enam tahun Pencak Silat Tradisi pasca diakui sebagai Warisan Budaya Takbenda Dunia oleh UNESCO, di Gedung Serba Guna Padepokan Pencak Silat  TMII Jakarta, Minggu (14/12/2025). Menteri Kebudayaan Fadli Zon Poto bersama dengan Komite Pencak Silat Tradisi Indonesia (KPSTI), saat menggelarTasyakuran dan Tafakur Retrospeksi enam tahun Pencak Silat Tradisi pasca diakui sebagai Warisan Budaya Takbenda Dunia oleh UNESCO, di Gedung Serba Guna Padepokan Pencak Silat TMII Jakarta, Minggu (14/12/2025).

Seputarpublik.com, JAKARTA — Komite Pencak Silat Tradisi Indonesia (KPSTI) menggelar kegiatan Tasyakuran dan Tafakur Retrospeksi enam tahun Pencak Silat Tradisi pasca diakui sebagai Warisan Budaya Takbenda Dunia oleh UNESCO. Kegiatan ini berlangsung di Gedung Serba Guna Padepokan Pencak Silat, Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Jakarta, Minggu (14/12/2025).

Acara ini menjadi momentum refleksi bersama atas perjalanan pencak silat tradisi sejak pengakuan UNESCO pada 2019, sekaligus ruang evaluasi untuk memperkuat komitmen pelestarian nilai-nilai luhur pencak silat di tengah arus modernisasi.

Hadir dalam kegiatan tersebut Menteri Kebudayaan Fadli Zon serta Direktur Jenderal Perlindungan Kebudayaan dan Tradisi Kementerian Kebudayaan Restu Gunawan. Kehadiran jajaran pemerintah menegaskan dukungan negara terhadap keberlanjutan pencak silat sebagai identitas budaya bangsa.

Selain unsur pemerintah, acara ini juga dihadiri tokoh-tokoh pencak silat tradisi, budayawan, perwakilan perguruan silat dari berbagai daerah, serta perwakilan padepokan dan komunitas budaya. Rangkaian kegiatan diisi dengan doa bersama, refleksi, dan diskusi mengenai tantangan serta peluang pelestarian pencak silat ke depan.

Pergantian Ketua Umum KPSTI

Kegiatan ini diawali dengan penetapan pergantian antar waktu Ketua Umum KPSTI periode 2024–2028. Dr. Nur Ali, M.Pd. yang sebelumnya menjabat Ketua Umum, beralih sebagai Ketua Harian, sementara jabatan Ketua Umum diamanahkan kepada KH. Mahfudz Abdurrahman, S.Sos. Keputusan tersebut ditetapkan di Jakarta pada 5 Mei 2025 dan berlaku sejak tanggal penetapan.

Panitia: Jangan Berhenti di Euforia

Ketua Panitia kegiatan, H. Yusron Sjarief, menegaskan bahwa peringatan enam tahun pengakuan UNESCO tidak boleh berhenti pada euforia semata.

“Selama enam tahun ini, kita masih banyak merayakan euforianya. Melalui tasyakuran dan tafakur ini, kami ingin mengajak semua pihak merenungkan ke mana arah pencak silat tradisi akan dibawa ke depan,” ujar Yusron.

Menurutnya, KPSTI sengaja menghadirkan forum sarasehan agar lahir gagasan strategis yang tidak hanya melestarikan, tetapi juga mengembangkan pencak silat tradisi agar mampu menjawab tantangan zaman.

Yusron juga menegaskan bahwa pencak silat tradisi merupakan warisan budaya dunia takbenda milik bangsa Indonesia yang tidak lepas dari peran para pendahulu, termasuk almarhum Mayjen TNI (Purn) Eddie Nalapraya, inisiator utama yang dikenal sebagai Bapak Pencak Silat Dunia.

Ketua Umum KPSTI: Tafakur untuk Menatap Masa Depan

Ketua Umum KPSTI, KH. Mahfudz Abdurrahman, menekankan bahwa enam tahun pengakuan UNESCO harus dimaknai sebagai momentum tafakur bersama.

“Pengakuan UNESCO pada 12 Desember 2019 adalah peristiwa sejarah yang patut kita syukuri. Namun lebih dari itu, ini menjadi pengingat agar pencak silat tradisi terus hidup, berkembang, dan diwariskan,” kata Mahfudz.

Ia mengajak seluruh komunitas pencak silat, baik IPSI, KPSTI, maupun organisasi lainnya, untuk bersama-sama bertanggung jawab dalam melestarikan dan mendayagunakan pencak silat tradisi sebagai bagian dari jati diri bangsa Indonesia.

Menteri Kebudayaan: Amanah Konstitusi

Menteri Kebudayaan Fadli Zon mengapresiasi penyelenggaraan kegiatan refleksi tersebut. Menurutnya, pencak silat bukan sekadar olahraga bela diri, tetapi ekspresi budaya yang sarat nilai, filosofi, dan pembentukan karakter bangsa.

“Negara memajukan kebudayaan nasional Indonesia di tengah peradaban dunia. Apa yang dilakukan KPSTI hari ini merupakan bagian dari amanah konstitusi,” ujar Fadli Zon.

Ia juga mendorong pendokumentasian pencak silat tradisi secara sistematis, mulai dari arsip sejarah, visual, hingga film dokumenter, agar warisan budaya tersebut tidak hilang tergerus perubahan zaman.

“Pencak silat harus kita pastikan tidak hanya diakui, tetapi terus hidup, relevan, dan diwariskan kepada generasi masa depan,” tutupnya.(hel)