PLTS tersebut akan memberikan kontribusi terhadap NZE sebesar 245 GWh per tahun dan mengurangi emisi sebesar 214.000 ton CO2 per tahun.
“Kapasitas PLTS Terapung Cirata masih bisa dikembangkan lebih besar lagi, dengan total potensi maksimum mencapai sekitar 1,2 GWp apabila memanfaatkan 20 persen dari luas total Waduk Cirata,” tuturnya.
Arifin menuturkan pengembangan pembangkit solar PV skala besar ini bisa menjadi daya tarik industri untuk membuat bahan baku solar PV. “Harapannya, nanti bahan baku ke depan bisa dikembangkan di Indonesia supaya TKDN-nya bisa full,” ungkapnya.
PLTS Terapung Cirata adalah hasil kolaborasi dua negara yakni Indonesia dan UEA, yang melibatkan Subholding PLN yakni PT PLN Nusantara Power dengan Masdar dari UEA.
Untuk mendorong pengembangan PLTS terapung di Indonesia diperlukan sinergi antarsemua pihak.
Kerja sama dengan mitra internasional menjadi penting agar dapat membuka akses terhadap pendanaan energi bersih dan proven technology.
Sementara itu, Menteri Perdagangan Luar Negeri UEA Thani bin Ahmed Al Zeyoudi menyampaikan selamat atas beroperasinya PLTS Terapung Cirata dan berharap antara Indonesia dan UEA bisa melanjutkan kolaborasi yang semakin solid ke depan.
Komentar