Seputar Publik.Bima -Turunnya harga jagung di musim panen tahun ini mengundang reaksi, khususnya di sentra produksi jagung di Pulau Sumbawa khususnya di Kabupaten Dompu, Kabupaten Bima dan Kota Bima.
Berbagai aksi unjuk rasa hingga pemblokiran jalan terjadi yang dilakukan oleh kelompok mahasiswa, maupun kelompok masyarakat dan LSM dengan mengatasnamakan petani jagung untuk menuntut pemerintah Daerah dan Pemerintah Pusat agar segera turun tangan mengatasi permasalahan ini.
Turunnya harga jagung tersebut di satu sisi memang menjadi keuntungan sendiri bagi pengusaha unggas karena bahan dasar pakan unggas adalah jagung. Namun, di sisi lain turunnya harga jagung tersebut menjadi kerugian bagi para petani jagung, karena tidak sebanding dengan modal yang telah mereka keluarkan.
Bagi para petani jagung, dengan turunnya harga jagung, mereka mengalami kerugian yang tidak sedikit. Mengingat Jagung-jagung yang ditanam di atas pegunungan akan membutuhkan biaya lebih/ekstra, mulai dari biaya pemupukan, biaya obat-obatan/insektisida, biaya panen hingga untuk biaya pengangkutannya sampai lokasi pengumpulan. Belum lagi untuk pengolaan lahannya yang membutuhkan biaya pula. Sementara, saat ini kebanyakan para petani jagung terjebak dengan hutang sebagai modal awal, untuk biaya penanaman dan pembelian bibit jagung yang harganya juga mulai mahal.
Komentar