Dalam kunjungannya, Tito menilai kondisi penyintas di Desa Tunyang mengalami perubahan signifikan. Hunian sementara yang dibangun tidak hanya menyediakan tempat tinggal, tetapi juga dilengkapi fasilitas publik seperti sanitasi, tempat bermain anak, sarana olahraga, aula, dan masjid.
“Perbedaannya sangat terasa dibanding dua bulan lalu. Dulu mereka menangis, sekarang sudah bisa tersenyum dan tertawa,” ujar Tito.
Sebagai langkah lanjutan, pemerintah melalui Satgas PRR terus mempercepat penyaluran bantuan bagi penyintas. Bantuan tersebut meliputi jaminan hidup (jadup) sebesar Rp15.000 per orang per hari selama tiga bulan, bantuan isi hunian sebesar Rp3 juta, serta bantuan stimulan ekonomi sebesar Rp5 juta per kepala keluarga.
Bantuan tersebut merupakan bagian dari skema pemulihan pascabencana untuk memastikan keberlangsungan hidup penyintas sembari menunggu pembangunan hunian tetap (huntap) rampung.
Tito juga meminta Pemerintah Kabupaten Bener Meriah untuk segera menyelesaikan pendataan calon penerima huntap, termasuk menentukan skema pembangunan, baik secara in-situ di lokasi semula maupun dalam bentuk hunian komunal.
“Saya membutuhkan data tersebut secepatnya agar proses pembangunan hunian tetap dapat segera direalisasikan sesuai kebutuhan masyarakat,” tegasnya.
Upaya percepatan rehabilitasi dan rekonstruksi ini diharapkan mampu mengembalikan kehidupan penyintas secara bertahap, sekaligus menghadirkan kembali rasa aman dan harapan bagi masyarakat terdampak bencana.(red)*
Komentar